Selasa, 13 Mei 2008

wisata candi jogja

Wisata Candi

1. Candi Prambanan
Jl. Jogja-Solo Km. 16 Prambanan, Yogyakarta INDONESIA 55282
telp: +62-274-496408 fax: +62-274-496408

Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.


JAM BUKA
Buka setiap hari dari jam 08.00-17.00 WIB

TIKET MASUK
Rp 7.500,00/orang

FASILITAS
- Area parkir yang luas
- Kamar mandi
- Pusat belanja souvenir
- Pusat makan dan minum
- Tour & Travel resmi dari PT. Taman Wisata Candi

2. Candi Banyunibo
Dusun Cepit, Bokoharjo, Prambanan, Sleman INDONESIA
Data terbaru per 29/11/2005

3. Candi Sari
Kalasan, Sleman INDONESIA
Data terbaru per 29/11/2005

Candi Sari adalah candi Buddha yang berada tidak jauh dari Candi Sambi Sari, Candi Kalasan dan Candi Prambanan, yaitu di bagian sebelah timur laut dari kota Yogyakarta, dan tidak begitu jauh dari Bandara Adisucipto. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno dengan bentuk yang sangat indah. Pada bagian atas candi ini terdapat 9 buah stupa seperti yang nampak pada stupa di Candi Borobudur, dan tersusun dalam 3 deretan sejajar.

Bentuk bangunan candi serta ukiran relief yang ada pada dinding candi sangat mirip dengan relief di Candi Plaosan. Beberapa ruangan bertingkat dua berada persis di bawah masing-masing stupa, dan diperkirakan dipakai untuk tempat meditasi bagi para pendeta Buddha (bhiksu) pada zaman dahulunya. Candi Sari di masa lampau merupakan suatu Vihara Buddha, dan dipakai sebagai tempat belajar dan berguru bagi para bhiksu.



4. Candi Sambisari


Desa Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman INDONESIA
Data terbaru per 29/11/2005

Candi Sambisari terletak di desa Sambisari, Purwomartani, Kalasan. Candi ini ditemukan kembali secara tidak sengaja oleh seorang petani ketika sedang mencangkul tanah pada tahun 1966. Candi tersebut telah terpendam dalam lapisan lahar Gunung Merapi setebal 6,5 meter.

Pola pembagian halaman candi secara keseluruhan mirip dengan Candi Prambanan, namun dalam bentuk yang lebih sederhana. Hal ini disebabkan Candi Sambisari merupakan candi tingkat watak, sedangkan Candi Prambanan merupakan candi tingkat kerajaan.

Kompleks Candi Sambisari terdiri atas candi utama dan 3 buah candi perwara di depannya. Halaman pertama yang berukuran 50 x 48 meter, dikelilingi pagar dari batu putih. Candi utama berukuran 13,65 x 13,65 meter dengan tinggi 7,5 meter, terdiri atas bagian alas (kaki), tubuh, dan atap. Arah hadapnya ke barat dan memiliki satu bilik. Ketiga candi perwara saat ini tinggal bagian kaki, tanpa tubuh dan atap, masing-masing berukuran 4,80 x 4,80 meter.

Di dalam bilik candi utama, terdapat lingga-yoni dengan cerat yoni menghadap ke arah utara. Bilik candi juga mempunyai beberapa relung yang berisi arca. Relung utara berisi arca Durga, relung timur berisi arca Ganeca, dan relung selatan berisi arca Agastya. Di kanan-kiri pintu masuk juga terdapat relung tetapi arcanya sudah hilang.

Di luar tubuh candi terdapat jalan (selasar) yang mengelilingi tubuh candi yang dibatasi dengan pagar keliling (pagar langkan). Pada selasar ditemukan semacam umpak sebanyak 12 buah (8 berbentuk bulat, 4 berbentuk persegi) yang diduga berfungsi untuk meletakkan tiang-tiang penyangga rangka atap dari kayu.

5. Candi Gampingan
Dusun Gampingan, Piyungan, Bantul INDONESIA
Data terbaru per 01/08/2005

6. Candi Ijo
Gumuk Ijo, Prambanan, Sleman INDONESIA
Data terbaru per 01/08/2005

Candi Ijo, terletak di Desa Gumuk Ijo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Berada di atas bukit berketinggian ± 410 meter dpl menjadikannya candi dengan letak paling tinggi se-Jogja.

7. Candi Sewu
Kompleks Candi Prambanan; Jl. Jogja-Solo Km. 16 Prambanan, Yogyakarta INDONESIA 55282 Data terbaru per 27/04/2007

Candi Sewu merupakan kompleks candi berlatar belakang agama Buddha terbesar di Jawa tengah di samping Borobudur, yang di bangun pada akhir abad VIII M. Ditinjau dari luas dan banyaknya bangunan yang ada di dalam kompleks, diduga Candi Sewu dahulu merupakan candi kerajaan dan salah satu pusat kegiatan keagamaan yang cukup penting pada jamannya. Sedangkan dilihat dari lokasi, letak Candi Sewu yang tidak jauh dari Candi Prambanan, menunjukkan bahwa pada saat itu dua agama besar dunia yaitu Hindu dan Buddha berdampingan secara damai.

Pada tahun 1960, di kompleks Candi Sewu telah ditemukan prasasti berangka tahun 714 c atau 792 M, yang isinya antara lain menyebutkan adanya penyempurnaan bangunan suci yang bernama Manjus'rigra. Berdasarkan prasasti tersebut, diduga nama asli Candi Sewu adalah Manjus'rigra yang artinya rumah Manjusri, Yaitu salah satu Boddhisatawa dalam agama Buddha. Mengenai tahun pendirian bangunan tersebut sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun tentunya sebelum tahun 792 M yang diketahui sebagai tahun penyempurnaan bangunan. Prasasti Kelurak yang berangka tahun 782 M yang ditemukan di dekat Candi Lumbung yakni beberapa ratus meter dari Candi Sewu, menurut R. Soekmono dihubungkan dengan Candi Sewu. Prasasti-prasasti tersebut tidak menyebutkan secara jelas nama raja yang memerintahkan membuat bangunan suci tersebut. Meskipun demikian dari data lain diduga Candi Sewu mulai didirikan pada akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran, seorang raja besar dari kerajaan Mataram kuno yang memerintah tahun 746-784 M.

8. Candi Mantup
Dusun Sampangan Mantup, Baturetno, Banguntangpan, Bantul INDONESIA
Data terbaru per 24/11/2005

9. Candi Kalasan

Jl. Jogja–Solo Km. 13 Kalasan, Yogyakarta INDONESIA 55282
Data terbaru per 20/02/2006

10. Candi Borobudur

Borobudur adalah salah satu monumen kuno yang terbaik yang dilestarikan dari seluruh dunia bahkan merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Monumen ini adalah kuil budha yang terbesar di seluruh dunia dan telah diklaim sebagai hasil budaya manusia yang paling sering dikunjungi lebih dari sejuta wisatawan baik domestik maupun luar negeri sampai saat ini. Gaya arsitek dari candi inipun tidak ada yang menyerupai di seluruh dunia. Struktur yang terisnpirasi menggambarkan mikro kosmos yang seringkali timbul menjadi suatu pertanyaan, misalnya kapan, dengan cara apa, berapa lama dan oleh siapa cagar alam ini telah dibangun.
Jawaban yang tepat sampai saat ini masih meninggalkan misteri karena tidak ada dokumen tertulis sampai saat ini. Berdasarkan prasasti yang ditemukan oleh peneliti, dicatat bahwa Candi Borobudur dibangun antara abad ke delapan ketika Samaratungga - raja dari dinasti Syailendra memerintah di Jawa Tengah. Arti dari Borobudur masih tidak jelas. Borobudur merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta berarti kompleks candi atau biara. Sedangakan Budur mengingatkan kita dengan kata yang berasal dari Bali Beduhur yang berarti di atas. Dengan kata lain, Borobudur berarti Biara di atas bukit.
Borobudur penuh dengan ornamen filosofis dimana menyimbolkan secara gamblang tentang kesatuan dari perbedaan jalur yang dapat diikuti untuk mencapai tujuan hidup yang paling pokok.Relif yang terukir di dinding candi memberitahukan keindahan dalam mempelajari hidup. Dengan kata lain, Borobudur memiliki jiwa seni, filosofis dan budaya.

11. Candi Sojiwan

CANDI SOJIWAN bentuk bangunannya hanya tampak seperti susunan batu tak beraturan yang siap roboh jika tersentuh. Candi Sojiwan, begitu nama bangunan itu, memang belum seterkenal candi lainnya, meski ia berada tak jauh dari komplek Candi Prambanan. Maklum, pemugarannya hingga kini belum rampung. Candi Sojiwan merupakan sebuah komplek candi Budha. Di lokasi itu terdapat candi induk serta beberapa buah candi perwara atau pendamping. Candi induk menghadap ke arah barat. Dasar candi berbentuk segi empat. Selasar atau teras berada di atas dasar candi, mengelilingi badan candi. Pintu candi memiliki penampil yang menjorok ke depan juga dilengkapi tangga bersayap yang ujungnya relief Kalamakara. Pada kanan dan kiri tangga terdapat relief. Demikian pula pada dasar candi serta bagian pintu. Umumnya, relief bercirikan candi Budha, antara lain makhluk kerdil dan Kinari-Kinari atau makhluk bersayap penghuni kahyangan. Pada sudut-sudut candi terdapat relief Simbar , yang lainnya adalah Jaladwara atau saluran air. Badan candi ini berbentuk segi empat. Di dalamnya ada sebuah kamar, tapi belum diketahui apa yang ada di sini, karena belum dipugar. Demikian pula dengan atap candi, belum dipugar hingga kini.

12. Candi Morangan

CANDI MORANGAN adalah sebuah candi yang terletak di Dusun Morangan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman. Propinsi DIY.Jika diamati dalam peta DIY, maka kompleks Candi Morangan merupakan candi yang menempati posisi paling utara dari keseluruhan kompleks candi yang ada di wilayah Propinsi DIY. Candi Morangan adalah candi yang paling mendekati Gunung Merapi daripada candi-candi lainnya di DIY. Candi ini ditemukan sejak zaman penjajahan Belanda. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia candi ini kembali tertutup tanah. Pihak SPSP DIY pernah melakukan ekskavasi pada tahun 1982. Ekskavasi yang dilakukan oleh SPSP DIY ini berhasil menampakkan 2 buah bangunan candi yakni candi induk dan candi perwara. Hingga saat ini candi induk pun belum seluruhnya dapat disingkap dan baru dapat digali sekitar tiga perempat bagian saja. Bangunan candi induk memiliki arah hadap ke barat sedangkan candi perwara terletak di depan candi induk agak geser ke sisi utara serta arah hadapnya ke timur

13. Candi Plaosan

CANDI PLAOSAN terletak di Dukuh Plaosan Desa Bugisan Kecamatan Prambanan kira-kira 1 km ke arah timur dari candi Sewu. Candi Budha ini terdiri atas dua candi utama yang terletak berdampingan, masing-masing mempunyai landasan dasar sendiri. Candi yang terletak di sebelah kiri dinamakan Candi Plaosan Lor dan candi yang terletak di sebelah kanan dinamakan candi Plaosan Kidul. Relief ukiran yang terletak di bagian selatan candi menggambarkan tentang laki-laki dan candi yang lain menggambarkan tentang wanita. Keistimewaan lain dari candi ini adalah candi Perwata yang meniru bentuk stupa.

14. Candi Gebang

Di kawasan utara Jogja, sekitar 12 km dari pusat kota, terdapat sebuah candi yang orang mungkin ndak banyak tau. Walau terletak di kawasan yang padat penduduknya, keberadaan candi ini seolah-olah masih terkucilkan.Candi Gebang, candi mungil ini ditengarai merupakan candi bercorak Hindu tertua di Jogja, bahkan diperkirakan lebih tua dari Candi Kalasan, candi Budha tertua di Jogja itu.


sumber :
www.gudeg.net

www.wikipedia.org

wisata mosium

Wisata museum


Museum Sonobudoyo

Merupakan museum budaya yang lengkap setelah Museum Pusat Jakarta. Terletak di sisi Barat Laut Alun-alun Utara Yogyakarta. Museum yang juga merupakan sarana pendidikan, khususnya dalam bidang seni-budaya dan kepurbakalaan ini, dapat dikunjungi pada dari :
Selasa s/d Kamis: Pukul 08.00-13.00 WIB
Jumat & Sabtu : Pukul 08.00-11.00 WIB
Minggu : Pukul 08.00-12.00 WIB



Museum Sri Sultan HB IX

Museum ini berada di dalam kompleks Kraton Yogyakarta yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X tanggal 18 November 1990. Benda-benda /peralatan, foto-foto dan tanda jasa serta barang yang ditampilkan dalam museum ini khusus miik maupun yang diterima almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Jam buka bersamaan dengan Kraton Yogyakarta.



Museum Kereta & Kraton

Keberadaan Museum Kraton sudah dirintis pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Kraton memiliki beberapa museum yang dikenal dengan Museum Kraton Yogyakarta. Museum-museum yang dimaksudkan tersebut adalah Museum Lukisan, Museum Kraton, Museum Hamengku Buwono IX, dan Museum Kereta. Museum Hamengku Buwono IX terletak di dalam kompleks Kraton, menyimpan beberapa benda yang pernah dipergunakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX termasuk berbagain perlengkapan fotografi. Museum Kerata terletak di sisi barat Kraton, tepatnya di jalan Rotowijayan.

Museum ini menyimpan berbagai koleksi kereta milik Kraton, beberapa diantaranya adalah Kyai Garuda Yeksa, kereta yang dipergunakan untuk acara kirab dalam rangkaian penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono VI sampai X; Kyai Jaladara –digunakan Sultan untuk tugas keliling desa; dan Kyai Kanjeng Jimat –digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai III untuk acara Garebeg atau menjemput tamu-tamu khusus.

Museum Kraton terletak di atas tanah seluas 14.000 meter persegi dengan bangunan berciri artiektur Jawa.


Museum Batik

Museum Batik terletak di Jl. Dr. Sutomo, Yogyakarta. Museum inimenyimpan koleksi batik yang berasal dari tahun 1880 sampai sekarang, baik batik gaya Yogyakarta, Surakarta, Madura, atau daerah-daerah lainnya, dengan berbagai motif tradisional. Museum ini juga menyimpan peralatan membatik seperti canthing dan cap, bahan pewarna, dan berbagai macam bahan untuk membatik (malam).



Museum Seni Lukis Kontenporer I Nyoman Gunarsa

Bangunan museum ini menempati tanah seluas 1.000 meter atas bangunan yang bercorak tradisional dan modern. Museum ini mempunyai tiga ruang pameran, yaitu ruang pertemuan / pendapa, ruang pamer tetap, dan ruang kantor.

Museum SLKI Nyoman Gunarso khusus mendokumentasikan karya pelukis-pelukis Indonesia yang berprestasi dan professional dalam seni lukis, khususnya seni kulis kontemporer Indonesia. Koleksi museum itu berjumlah ± 500 lukisan. Beberapa lukisan unggulannya antara lain lukisan dengan judul “Subali Sugriwa” dan “Spirit Hamengku Buwono IX



Museum Sasana Wiratama Diponegoro

Museum ini menempati areal tanah seluas 2 hektar, terletak di kampung Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta. Bangunan inti monument berarstiektur tradisional Jawa dengan bentuk joglo yang terdiri dari bangunan pendapa dan pringgitan. Bangunan tersebut terakhir dipugar pada tahun 1987.

Museum Monumen Pangeran Diponegoro memiliki 100 buah koleksi yang terdiri dari berbagai jenis senjata tradisional seperti keris, tombak, pedang, panah, dan bedil. Sedang koleksi unggulannya berupa bangunan tembok berlubang (jebol) yang menurut sejarah merupakan bangunan yang dijebol oleh Pangeran Diponegoro guna meloloskan diri dari kepungan kompeni. Di samping itu ada beberapa koleksi yang diperlakukan khusus, yaitu koleksi yang merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono II yang berasal dari tahun 1752. Koleksi tersebut berujud ketipung (kendang kecil) dan wilahan binang penempung yang terbuat dari kayu dan perunggu berwarna merah dan kuning.

Museum Monumental Pangeran Diponegoro dibuka setiap hari Senin sampai Sabtu pukul 08.0-13.00 WIB.



Museum Dirgantara TNI AU

Museum ini menempati gedung di dalam kompleks TNI Angkatan Udara yang berlokasi di daerah Wonocatur sekitar 10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta.

Dalam museum ini, para pengunjung dapat menyaksikan pesawat-pesawat dan benda sejarah dalam perjuangan TNI Angkatan Udara, sejak perang kemerdekaan sampai saat ini. Selain itu bisa dilihat pula diorama dari satelit Palapa dan kapal ruang angkasa Challenger, yang mengorbitkan satelit tersebut.

Para pengunjung bisa langsung ke tempat ini, dengan melaporkan kedatangannya kepada para petugas di tempat jaga. Waktu untuk berkunjung ke museum ini, hari Minggu s/d Kamis antara pukul 08.00-12.00 Hari Besar dan Senin tutup



Museum Dewantara Kirti Griya

Dewantara Kirti Griya adalah rumah bekas kediaman Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa.
Dalam konsep pendidikan beliau, lingkungan sekolah harus memilih suasana kekeluargaan dan oleh karenanya beliau menghendaki untuk bertempat tinggal di dalan lingkungan perguruan yang didirikannya. Suasana kekeluargaan yangn hangat ini hingga kini masih terasa dan dapat dihayati oleh para pengunjung kompleks ini. System pendidikan Nasional Taman Siswa menggunakan pendekatan budaya dan oleh karenanya tidaklah mengherankan bilamana dalam kompleks ini terdapat pendopo yang indah, yang dipergunakan untuk kegiatan latihan tari dan karawitan para siswa.



Museum Affandi

Museum ini terletak di sisi sebelah Utara dari jalan Solo nomor 167, tepatnya di lereng sebelah Barat jembatan sungai Gajah Wong. Gaya lukisannya termasuk dalam aliran eksperesionisme.
Almarhum Affandi telah menerima banyak penghargaan dari Negara-negara di Asia dan Eropa, disamping gelar Doctor Honoris Causa yang diterimanya dari Universitas Singapore.
Museum ini terbuka untuk kunjungan umum. Minggu s/d Sabtu 09.00-13.00 WIB.



Museum Biologi Universitas Gadjah Mada

Terletak di Jalan Sultan Agung no.22 Yogyakarta, merupakan sarana pendidikan tentang satwa (fauna) dalam alam tumbuhan (flora) Indonesia. Dalam museum ini dapat disaksikan berbagai macam herbarium kering dan basah, berbagai jenis binatang dan kerangkanya. Sebagain diantaranya diperagakan dalam bentuk diorama, yang memperlihatkan kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut, menyerupai keadaan di alam aslinya. Museum ini buka setiap hari:

Selasa s/d Kamis: Pukul 08.00-13.30 WIB
Jumat : Pukul 08.00-11.00 WIB
Sabtu : Pukul 08.00-12.30 WIB
Minggu : Pukul 08.00-12.00 WIB



Museum Teknologi Mineral UPN

Museum ini berarsitektur modern dengan luas bangunan 1.000 meter persegi, terdiri dari ruang pamer I dan II, studio, gudang dan perkantoran.
Museum Goeteknologi Mineral memiliki koleksi kebumian bidang geologi, pertambangan, perminyakan, dan pertanian yang meliputi batuan (309 buah), artefak (56 buah), panel (42 buah), fosil (309 buah), maket (18 buah), foto (47 buah), tektite (11 buah), mineral (104 buah) dan peta (8 buah).

Koleksi unggulan berupa fosil kepala gajah purba (Maestodon SP) berwarna coklat kehitaman. Gajah tersebut diperkirakan hidup pada masa prasejarah/masa pleistosen atas (3 juta tahun yang lalu), didapatkan dari Museum Geologi ITB Bandung. Di samping itu ada pula koleksi batu Amethyse berwarna ungu dan batu Giok hijau.



Museum Benteng Vredeburg

Di masa penjajahan Belanda, benteng ini merupakan tangsi militer bala tentara pemerintahan Belanda, yang dibangun pada tahun 1765. benteng ini terletak tepat di depan bangunan Gedung Agung, dengan maksud untuk melindungi Residen Belanda yang bertempat tinggal di dalam gedung itu. Menilik lokasi berdirinya, benteng ini nampaknya juga sengaja dibangun untuk menghadapi gerakan militer yang mungkin timbul dari Kraton Yogyakarta, yang letaknya hanya 1 jarak tembakan meriam (meriam kuno) dari benteng ini. Ini terlihat dari letak altar meriam yang terletak disebelah Selatan (menghadap ke Kraton).

Dari atas altar kanon (meriam), kita dapat menyaksikan kesibukan lalu lintas di sekitar gedung-gedung kuno dari pertengahan abad ke 19, yang hingga kini masih terawat baik dan tetap dipertahankan keantikannya. Museum ini di buka pada hari:
Selasa s/d Minggu: Pukul 08.30-14.00 WIB
Jumat : Pukul 08.00-11.00 WIB
Sabtu-Minggu : Pukul 08.30-12.00 WIB



Museum Dharma Wiratama - TNI Angkatan Darat

Dalam museum ini dapat disaksikan berbagai benda bersejarah yang pernah dipergunakan sejak periode 1945 hingga sekarang, di bawah pemerintah Orde Baru, terutama yang dengan perjuangan TNI Angkatan Darat.
Para pengunjung yang datang dalam rombongan yang cukup besar diharapkan untuk memberitahu dahulu sebelum hari kunjungannya, baik melalui surat resmi, secara lisan atau melalui telepon 586417.

Terletak di Jl. Jenderal Sudirman dan dapat dikunjungi pada dari:
Senin s/d Kamis : antara pukul 08.00-13.00
Jumat : tutup
Sabtu dan Minggu: antara pukul 08.00-12.00



Museum Tembi

Bangunan Rumah Dokumentasi Budaya Tembi menempati sebuah gedung induk dengan luas 212 meter persegi. Gedung ini dilengkapi dengan gedung-gedung lain seperti perpustakaan, pendapa, pringgitan, kantor, galeri, gudang, dsb. Yang mempunyai luas total 1.057 meter persegi. Keseluruhan bangunan tersebut menempati areal tanah seluas 3.500 meter persegi.

Rumah Dokumentasi Budaya Tembi menghadap ke selatan berada di sebelah utara jalan jurusan Bantul-Pleret. Museum ini mudah dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

Koleksi unggulan Rumah Budaya Tembi berupa tombak Pancasula, tombak dengan landean/pegangan pendek. Bahan tombak adalah besi aji pamor meteor dengan perpaduan warna kelabu dan kuning. Tombak ini berasal dari zaman Mataram Islam. Koleksi unnggulan lainnya adalah keris Caribuk, terbuat dari bahan besi aji pamor meteor, warna hitam ,berasal dari zaman Pejajaran.



Museum Wayang "Kekayon"

Museum ini diresmikan oleh Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Paduka Paku Alam VIII tanggal 5 Januari 1991. menempati 9 unit bangunan dengan luas tanah lebih 1,1 hektar. Terletak pada km 7 dengan nomor telepon 513218.

Dalam Museum ini dapat disaksikan beberapa jenis waayang antara lain: Wayang Purwo, Wayang Madyo, Wayang Thengul, Wayang Klithik, Waayang Beber dan lain sebagainya. Wayang tersebut terbuat dari : kulit, kayu, kain, dan kertas. Selain koleksi wayang, juga terdapat jenis topeng.

Bangunan yang disebut Sasono Pratelo merupakan tempat pelayanan informasi tentang Wayang dan Topeng. Museum ini dapat dikunjungi untuk umum dibuka setiap hari pukul 08.00-15.00 WIB dengan menghubungi pengurusnya terlebih dahulu

Museum Sasmita Loka Jenderal Soedirman

Museum in terletak di jalan Bintaran Yogyakarta dan merupakan bekas rumah kediaman Panglima Besar Jendral Sudirman, jendral pertama dalam angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dalam museum ini, para pengunjung dapat menyaksikan berbagai senjata api (diantaranya merupakan senjata api buatan sendiri) dan berbagai peralatan perang lain yang dipergunakan dalam revolusi phisik menghadapi musuh-musuh Negara.

Diantaranya benda-benda peninggalan Panglima Besar Sudirman, terdapat tandu (kursi yang dilengkapi dengan tangkai pemikul) yang setia membawa beliau selama bergerilya, dibuka tiap hari jam 08.00-14.00 WIB

Sumber : http://korantarget.wordpress.com/2008/03/23/daftar-museum-di-jateng-diy/

Museum Batik Ullen Sentalu

Museum Ulen Sentalu adalah museum swasta, didirikan oleh Keluarga Haryono di bawah Yayasan Ulateng Blencong yang mendapat dukungan para sesepuh Dinasti Mataram, diantaranya I.S.K.S PB XII, GBPH Poeger, KGPAA PA IX, GRAy. Siti Nurul Kusumawardhani, dan mantan ibu negara Ibu Hartini Soekarno. Secara resmi dibuka Gubernur DIY, Paku Alam VIII pada 1 Maret 1997.

Ulateng Blencong Sejatine Tataraning Lumaku, adalah akronim dari ULLEN SENTALU

Koleksi museum adalah sejarah seni dan budaya Mataram yang merupakan warisan intangible yang dituangkan dalam karya-karya fine arts a-l: lukisan dan foto keluarga Mataram, batik kraton yang dapat membuka ruang dan waktu dalam penelusuran sejarah Mataram Islam maupun Klasik yang menjadi sumber identitas budaya bangsa.

Lokasi di Kawasan Wisata Kaliurang di kaki Gunung Merapi yang merupakan tempat sacral dan panorama alam nan indah menjadi inspirasi penggagas arsitektur museum untuk mendesain bangunan secara “In The Field Architecture Concept”, dimana bangunan dibuat dengan mengindahkan landscape dan menyatu dengan alam itu sendiri.


Pimp : KRT. Thomas Haryonagoro,

tiket masuk : US $ 4 (mancanegara) DOMESTIK Rp. 20.000, pelajar Rp. 10.000

buka : Selasa – Minggu , pkl. 9.00 – 16.00 WIB (libur nasional tetap buka)

web site : www.ullensentalu.com e-mail: info@ullensentalu.com

tel/fax : (274) 880158, 895161 / 881743



Museum Sono Budoyo, Jl. Trikora No. 6

Museum Pendidikan Islam

Museum Perjuangan Jogja

Museum Sasmita Loka

Museum Yogya Kembali, Jl. Monjali

Museum Seni Jogja

Museum Geoteknologi Mineral, Jl. Babarsari




tempat belanja asik.....

Tempat belanja paling…..asik…

1. Mirota batik

Jl. Malioboro Yogyakarta

Merupakan pusat penjualan barang-barang dan cinderamata khas Yogyakarta yang juga merupakan salah satu tujuan utama wisatawan di Yogyakarta untuk mencari barang-barang cindera mata dengan kualitas dan harga yang sedikit lebih tinggi

2. Pasar bering harjo

Jl. Malioboro Yogyakarta

Merupakan Pasar Tradisional tertua yang juga merupakan tujuan utama wisatawan di Yogyakarta untuk mencari barang-barang cindera mata, kerajinan dan tekstil khas Yogyakarta, dan barang-barang kebutuhan sehari-hari lainnya.

3. Ramayana

Jl. Malioboro Yogyakarta

Merupakan pusat perbelanjaan di kawasan Malioboro yang paling banyak didatangi pengunjung setelah Malioboro Mall, namun hanya terbatas wisatawan domestik dan masyarakat di Yogyakarta

4. Malioboro mall

Jl. Malioboro No. 52-58 Yogyakarta

Merupakan pusat perbelanjaan di kawasan Malioboro yang paling banyak didatangi pengunjung, termasuk wisatawan-wisatawan, baik domestic maupun mancanegara di Yogyakarta

5. Galleria

Jl. Jend. Sudirman No. 99-101 Yogyakarta

Merupakan pusat perbelanjaan yang berdiri kurang lebih 10 tahun terakhir ini di kota Yogyakarta

6. Gardena

Jl. Urip Sumohardjo No. 40 Yogyakarta

Merupakan pusat perbelanjaan yang sudah cukup lama berdiri di kota Yogyakarta

Pengunjung yang datang ke tempat ini masih terhitung banyak walaupun sudah banyak bermunculan mall-mall baru di yogyakarta

7. Saphire square

Jl. Laksda Adisucipto Yogyakarta

Baru beroperasi bulan Oktober 2005 dan hingga saat ini belum semua toko buka

8. Ambarukmo plaza

Jl. Laksda Adisucipto Yogyakarta

Merupakan shopping mall yang masih relatif baru di Yogyakarta dan baru beroperasi bulan April 2006, dan masih merupakan pusat perbelanjaan yang dianggap paling menarik dan diminati masyarakat DIY, walaupun belum semua toko dibuka.

restoran & cafe jogjakarta

Restoran & Kafe di Jogja / Yogyakarta

Beberapa restoran di Jogja / Yogyakarta menyajikan masakan Indonesia dan juga Eropa. Restoran ini dirancang untuk memberikan nuansa istimewa, tempat tamu menikmati makanan dan suasananya dengan musik, interior yang cantik, dan kursi yang nyaman.

  • BALE RAOS - Royal Cuisine Restaurant
    Bale-Raos
    Bale Raos adalah satu-satunya restoran yang menyajikan masakan kesukaan Sultan Yogyakarta.

  • dixie easy dining
    dixie
    dixie adalah tempat dimana anda akan menikmati makanan yang lezat, pelayanan yang ramah dan menyenangkan

  • GABAH RESTO - Gaya yang Berbeda
    Gabah-Resto
    Berbagai macam sajian makanan di Gabah Resto dan pelayanan spesial dengan sentuhan lembut menjanjikan anda sebuah gaya yang berbeda dalam meningkatkan kenyamanan anda dalam interaksi yang tidak terbatas.

  • INDRALOKA GARDEN RESTO - Sajian Menu Cita Rasa Tinggi
    Indraloka-Resto
    Indraloka Garden Resto adalah sebuah restoran dengan perpaduan makanan Asia, Eropa, dan makanan tradisional Indonesia. Indraloka Garden Resto mengajak anda untuk menikmati berbagai macam menu dengan cita rasa tinggi, pelayanan berkelas, dan suasana unik.

  • PASTéLLO - The Art of Dining
    PASTeLLO
    PASTéLLO the art of dining is a smart choice for a "Good Food, Good Service, and Good Price", so what else?

  • Pesta Perak Restaurant, Jogja
    Pesta-Perak
    Pesta Perak Restaurant menyajikan hidangan. Suasana yang khusus menjadikan anda bisa mendiskusikan dan melakukan hubungan bisnis sementara anda menikmati hidangan.

  • SAGAN RESTO - Seaffod Resto & Lounge
    Sagan-Resto
    Sagan Resto, Seaffod Resto & Lounge hadir dengan konsep masakan seafood Oriental-Malay dari bahan laut hidup dan segar, yang dipadukan dengan kekayaan bumbu masakan laut nusantara, menawarkan cita rasa tersendiri.

  • SEKAR KEDHATON - Restaurant, Lounge and Boutique Residence
    Sekar-Kedhaton
    Sekar Kedhaton

  • V-Art Gallery Cafe
    V-Art
    V-Art Gallery Cafe menghadirkan kepada anda sebuah pengalaman seni yang baru dan menarik dengan menampilkan sebagian karya-karya seni Indonesia terbaik.

  • Ayam Bakar Wong Solo
    Wong-Solo
    Ayam Bakar Wong Solo menyajikan menu khas jawa dengan rasa Indonesia (nusantara) selain menu-menu masakan cina yang dimodifikasi ala Wong Solo

Sumber : http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/

sejarah jogjakarta

Daerah Istimewa Yogyakarta

Lambang Daerah Istimewa Yogyakarta

Letak :

Koordinat

7-8 LS dan 110-111 BT

Dasar hukum

U.U.No 3/1950

Tanggal penting

4 Maret 1950

Ibu kota

Yogyakarta

Gubernur

Sri Sultan Hamengkubuwono X

Luas

3.185,80 km2

Penduduk

4.3640.000 (+/-)

Kepadatan

13.687/km2

Kabupaten

4

Kodya/Kota

1

Kecamatan

78

Suku

Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Melayu, Tionghoa, Suku Batak, Suku Minang, Suku Bali, Suku Madura

Agama

Islam (92.1%), Katolik (4.9%), Protestan (2.7%), Lain-lain (0.2%)

Bahasa

Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia

Zona waktu

WIB

Situs web resmi: http://www.pemda-diy.go.id

Sejarah

Daerah Istimewa Yogyakarta (atau Yogyakarta) dan seringkali disingkat DIY adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah utara. Secara geografis Yogyakarta terletak di pulau Jawa bagian Tengah. Daerah tersebut terkena bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 yang mengakibatkan 1,2 juta orang tidak memiliki rumah.

Propinsi DI. Yogyakarta memiliki lembaga pengawasan pelayanan umum bernama Ombudsman Daerah Yogyakarta yang dibentuk dengan Keputusan Gubernur DIY. Sri Sultan HB X pada tahun 2004.

Yogyakarta sebelum tahun 1945 dengan enklave-enklave Surakarta dan Mangkunagaran

Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebuah provinsi yang berdasarkan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Selain itu ditambahkan pula mantan-mantan wilayah Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Praja Mangkunagaran yang sebelumnya merupakan enklave di Yogyakarta.

Sejarah Awal Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta

Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta dapat dirunut asal mulanya dari tahun 1945, bahkan sebelum itu. Beberapa minggu setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, atas desakan rakyat dan setelah melihat kondisi yang ada, Hamengkubuwono IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945 . Isi dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit dengan isi yang serupa juga dikeluarkan oleh Paku Alam VIII pada hari yang sama. Dekrit integrasi dengan Republik Indonesia semacam itu sebenarnya juga dikeluarkan oleh berbagai monarki di Nusantara, walau tidak sedikit monarki yang menunggu ditegakkannya pemerintahan Nederland Indische setelah kekalahan Jepang.

Pada saat itu kekuasaan Kasultanan Yogyakarta meliputi:

  1. Kabupaten Kota Yogyakarta dengan bupatinya KRT Hardjodiningrat,
  2. Kabupaten Sleman dengan bupatinya KRT Pringgodiningrat,
  3. Kabupaten Bantul dengan bupatinya KRT Joyodiningrat,
  4. Kabupaten Gunungkidul dengan bupatinya KRT Suryodiningrat,
  5. Kabupaten Kulonprogo dengan bupatinya KRT Secodiningrat.

Sedangkan kekuasaan Praja Paku Alaman meliputi:

  1. Kabupaten Kota Paku Alaman dengan bupatinya KRT Brotodiningrat,
  2. Kabupaten Adikarto dengan bupatinya KRT Suryaningprang.

Dengan memanfaatkan momentum terbentuknya Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah Yogyakarta pada 29 Oktober 1945 dengan ketua Moch Saleh dan wakil ketua S. Joyodiningrat dan Ki Bagus Hadikusumo, maka sehari sesudahnya, semufakat dengan Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta, Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan dekrit kerajaan bersama (dikenal dengan Amanat 30 Oktober 1945 ) yang isinya menyerahkan kekuasaan Legeslatif pada Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta. Mulai saat itu pula kedua penguasa kerajaan di Jawa bagian selatan mengeluarkan dekrit bersama dan memulai persatuan dua kerajaan.

Semenjak saat itu dekrit kerajaan tidak hanya ditandatangani kedua penguasa monarki melainkan juga oleh ketua Badan Pekerja KNI Daerah Yogyakarta sebagai simbol persetujuan rakyat. Perkembangan monarki persatuan mengalami pasang dan surut. Pada 18 Mei 1946, secara resmi nama Daerah Istimewa Yogyakarta mulai digunakan dalam urusan pemerintahan menegaskan persatuan dua daerah kerajaan untuk menjadi sebuah daerah istimewa dari Negara Indonesia. Penggunaan nama tersebut ada di dalam Maklumat No 18 tentang Dewan-Dewan Perwakilan Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta (lihat Maklumat Yogyakarta No. 18 ). Pemerintahan monarki persatuan tetap berlangsung sampai dikeluarkannya UU No 3 Tahun 1950 tentang pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengukuhkan daerah Kesultanan Yogyakarta dan daerah Paku Alaman adalah bagian integral Negara Indonesia.

"(1) Daerah jang meliputi daerah Kesultanan Jogjakarta dan daerah Paku Alaman ditetapkan menjadi Daerah Istimewa Jogjakarta. (2) Daerah Istimewa Jogjakarta adalah setingkat dengan Propinsi."(Pasal 1 UU No 3 Tahun 1950)

  1. Soedarisman Poerwokoesoemo (1984) Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogykarta: Gadjah Mada Press University
  2. GBPH Joyokusumo: Kraton, Otonomi Daerah dan Good Governance di DIY, SKH KR tgl 23, 24, 26 Februari 2007

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri atas 4 kabupaten dan 1 kota. Ibu kotanya adalah Yogyakarta. Berikut adalah daftar kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, beserta ibukota kabupaten.

Kabupaten

Ibukota Kabupaten

Bantul

Bantul

Gunung Kidul

Wonosari

Kulon Progo

Wates

Sleman

Sleman


Kota


Yogyakarta


Peta pembagian wilayah adminitratif

Sebagian besar perekonomian di Yogyakarta disokong oleh hasil cocok tanam, berdagang, kerajinan (kerajinan perak, kerajinan wayang kulit, dan kerajinan anyaman), dan wisata. Namun ada juga sebagian warga yang hidup dari ekspansi dunia pendidikan seperti rumah kost buat mahasiswa. Merupakan pemandangan yang biasa ketika anda sampai di Stasiun Yogyakarta atau di halte khusus tempat perhentian bus-bus pariwisata, anda akan disambut oleh banyak tukang becak. Mereka akan mengantarkan anda ke tempat tujuan mana saja yang layak untuk anda nikmati seperti toko baju, toko bakpia, mal, atau sekadar membeli cinderamata. Anda pun akan heran setelah tukang becak itu mengajak anda berkeliling kota seharian, mereka hanya akan meminta bayaran yang rendah. Mengapa bisa demikian? Ternyata mereka juga sudah mendapat bagian dari mengantarkan anda ke toko-toko tadi.

Pemerintahan

Umum

Dasar filosofi pembangunan daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Hamemayu Hayuning Bawana, sebagai cita-cita luhur untuk menyempurnakan tata nilai kehidupan masyarakat Yogyakarta berdasarkan nilai budaya daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Dasar filosofi yang lain adalah Hamangku-Hamengku-Hamengkoni, Tahta Untuk Rakyat, dan Tahta untuk Kesejahteraan Sosial-kultural.

Landasan Yuridis Konstitusional

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta secara legal formal dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1950 (Berita Negara Tahun 1950 Nomor 3) dan UU Nomor 19 Tahun 1950 (Berita Negara Tahun 1950 Nomor 48) yang diberlakukan mulai 15 Agustus 1950 dengan PP Nomor 31 Tahun 1950 (Berita Negara Tahun 1950 Nomor 58).

UU Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai isi yang sangat singkat dengan 7 pasal dan sebuah lampiran daftar kewenangan otonomi. UU tersebut hanya mengatur wilayah dan ibu kota, jumlah anggota DPRD, macam kewenangan Pemerintah Daerah Istimewa, serta aturan-aturan yang sifatnya adalah peralihan.

UU Nomor 19 Tahun 1950 sendiri adalah revisi dari UU Nomor 3 Tahun 1950 yang berisi penambahan kewenangan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pembagian Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi kabupaten -kabupaten dan kota yang berotonomi dan diatur dengan UU Nomor 15 Tahun 1950 (Berita Negara Tahun 1950 Nomor 44) dan UU Nomor 16 Tahun 1950 (Berita Negara Tahun 1950 Nomor 45). Kedua undang-undang tersebut diberlakukan dengan PP Nomor 32 Tahun 1950 ( Berita Negara Tahun 1950 Nomor 59) yang mengatur Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi kabupaten-kabupaten:

  1. Bantul beribukota di Bantul
  2. Sleman beribukota di Sleman
  3. Gunung kidul beribukota di Wonosari
  4. Kulon Progo beribukota di Sentolo
  5. Adikarto beribukota di Wates
  6. Kota Besar Yogyakarta

Dengan alasan efisiensi, pada tahun 1951, kabupaten Adikarto yang beribukota di Wates digabung dengan kabupaten Kulon Progo yang beribukota di Sentolo menjadi Kabupaten Kulon Progo dengan ibu kota Wates. Penggabungan kedua daerah ini berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 1951 (Lembaran Negara Tahun 1951 Nomor 101). Semua UU mengenai pembentukan DIY dan Kabupaten dan Kota di dalam lingkungannya, dibentuk berdasarkan UU Pokok tentang Pemerintah Daerah (UU No 22 Tahun 1948).

Selanjutnya, demi kelancaran tata pemerintahan, sesuai dengan mosi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6/1952 tertanggal 24 September 1952, daerah-daerah enclave Imogiri, Kota Gede, dan Ngawen dilepaskan dari Propinsi Jawa Tengah dan kabupaten-kabupaten yang bersangkutan kemudian dimasukkan ke dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan kabupaten-kabupaten yang wilayahnya melingkari daerah-daerah enclave tersebut.

Penyatuan enclave-enclave ini berdasarkan UU Darurat Nomor 5 Tahun 1957 (Lembaran Negara Tahun 1957 Nomor 5) yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi UU Nomor 14 Tahun 1958 (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1562).

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Yogyakarta